You are currently browsing the daily archive for February 22nd, 2008.
Bismillahirrahmanirrahim
pagi ini aku terbangun pukul 04:25 WIb tepat 5 menit sebelum azan subuh berkumandang untuk wilayah Bnadung dan sekitarnya. Namun rasa nyeri di kepala ini membuatku sedikit enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Akhirnya ku putuskan untuk tetap berbaring sambil menunggu azan subuh. Tapi hingga azan subuh, rasa nyeri makin berat sehingga agak enggan untuk berjamaah di masjid dekat asramaku. Yup akhirnya aku putuskan untuk menunaikan Subuh di kamar dan kemudian kulanjutkan dengan tilawah.
ketika tilawah itu terdengar suara ribut dari teman2 seasrama. kupikir itu hanya obrolan mereka saja. namun lama kelamaan ku dengar omongan itu agak serius tapi aku tetap meneruskan tilawahku. ketika aku keluar ternyata sumeber keributan itu adalah tertangkapnya seseorang pencuri yang akan menguntit di kamar sebelah kamarku.
memang asrama ku sudah beberapa kali kecolongan dan baru kali ini berhasil menangkap basah sang pencuri. dan akhirnya si pencuri kami bawa ke RT setempat setelah itu sang RT mengembalikan kepada kami mau di apain tuh si pencuri. Dan akhirnya kami sidang si pencuri untuk mengaku dan kami ikat selama setengah jam di depan pintu gerbang dan kami pasangkan papan pengumuman bahwa orang itu adalah pencuri.
huhu.. sebenarnya aku takut si pencuri itu jadi bulan-bulanan tetangga-tetangga kami. dan ternya betul saja beberapa orang melayangkan “bogemnya” ke wajah si pencuri. dan akhirnya ada seorang bapakyang menyarankan untuk dilepas saja si pencuri itu dari pada mati di pukulin warga. dan akhirnya kami setuju karena kami fikir si pencuri sudah jera dengan kejadian yang menimpanya, setidaknya tidak bakal berani lagi datang ke tempat kami.
Kemudian muncul pertanyaan yang menggelitik. Apa yang membuat orang itu melakukan hal tersebut? sudah menjadi kesepakatan umum kalau pencurian merupaka suatun perbuatan tercela dan melanggar hukum dan pasti orang yang waras akan berfikir ribuan kali untuk melakukan pencurian. Namun orang-orang sering memaklumi ketika seseorang yang sedang dihadapi kesulitan hidup terutama finansial dan mereka sedang sangat membutuhkannya melakukan pencurian semacam itu meskipun ucapan mulut lebih sering tidak sinkronnya dengan kejadian di lapangan ketika banyak orang-orang seperti itu dihajar tiada ampun sampai meregang nyawa seperti yang hampir dialami oleh si pencuri yang tertangkap tadi pagi.
Namun ada satu pihak lagi yang melakukan pencurian yang besar-besaran yang alasannya bukan karena dirundung kesulitan hidup karena mereka sangat bercukupan bahkan berlebih. Mereka mencuri karena ketamakan dan ketidakwarasan mereka, kelakuan mereka tak lebih baik dari “kera” yang mengumpulkan pisang danga ke empat tangannya plus yang sedang di kunyah dimulutnya. Namun ironisnya perlakuan yang diberikan jauh berbeda. Tak ada satu orang yang berlakuan seperti yang dialami si pencuri tadi pagi bahkan para pencuri besar itu mendapat perlakuakn dan pengamanan VIP, karpet merah selalu terhampar di setiap kedatangan mereka. Apa kita juga ikut-ikutan tidak waras??
Lantas apa maksud ini semua?? dimana keadilan di masyarakat ini?apakah mentang-mentang mereka-mereka yang melarat karena idak mampu menyumpal mulut kita semua dengan uang lantas mereka kita jadikan bulan-bulanan dan ketika para orang bersafari itu membobol dana terliunan rupiah kita jadikan raja karena kita mendapat sumpalan di setiap kantong kita.
Tulisan ini bukan mengajak pembaca untuk melakukan anarkis ke mereka-mereka yang melakukan pencurian besar ataupun kecil, melarat ataupun kaya raya. Tapi yang ingin disampaikan adalah mari tegakkan keadilan dengan menegakkan supremasi hukum. Jangan ada pembedaan di depan hukum. Kembalikan kewarasan masyarakat. Insya Allah kejadian di pagi ini akan semakin jarang terjadi.
for love, understanding and responsibelity to our society .




komen orang