You are currently browsing the daily archive for April 22nd, 2008.
Dalam komposisi kehidupan, cinta merupakan bumbu penyedap yang waib untuk dimasukkan. Konon kata kebanyakan orang cinta akan membuat hidangan kehidupan seseorang lebih gurih dan MAKNYUSSSS!!! istilah pak Bondan Winarno. yah!!jika kita tengok memang demikianlah keadaannya. Tanpa cinta kehidupan hambar dan sungguh merugi ketika seseorang memutuskan hidup tanpa cinta meskipun itu tidak mugkin. Terlepas dari segala persepsi itu cinta tetaplah akan hadir di kehidupan makhluk.
Sedangkan persepsi mengenai efek cinta kepada seseorang, kebanyakan akan sepakat bahwa cinta akan membawa segala hal menjadi lebih baik meskipun pada kenyataanya keadaan tidaklah demikian, tapi setidaknya akan membawa aura-aura positif dan akan meningkatkan tingkat optimis yang ada. Yang kemudian akan membuat seseorang lebih berjiwa fighter dan perfeksionis. Itulah kekuatan cinta yang sering orang-orang agungkan.
Namun sayangnya pengagungan cinta kebanyakan selama ini diarahkan kepada objek cinta sehingga yang terjadi adalah penyembahan terhadap objek tersebut. Mungkin kita pernah mendengar cerita Sangkuriang yang menyulap suatu lembah menjadi danau karena penghambaannya kepada objek cintanya yaitu Dayang Sumbi. Mungkin kita masih beralasan itukan kisah legenda yang belum tentu kebenarannya. Namun ingatlahkisah Taj Mahal yang merupakan persembahan terindah kepada sang kekasih yang seakan setiap jengkal dari Taj Mahal menyebut nama sang kekasih. Namun sekali lagi itu semua ditujukan kepada objek cintanya. Dan yang terjadi adalah perbudakan oleh cinta itu sendiri. Terkadang perudakan cinta memang membawa kebahagiaan namun lebih sering adalah kepiluan dan kepedihan
Namun lihatlah ketika cinta disandarkan kepada si Pemilik, Pencipta dan Pelaku cinta itu sendiri. Dia lah Allah, seperti tulisan sebelumnya yang menceritakan orang-orang yang menaruh cintanya kepada sang subjek cinta itu sendiri. Kebahagiaan dan keindahan hidup insya Allah akan selalu dalam genggaman mereka. Namun bukan berarti cinta mereka tanpa pengorbanan. Sang subjek cinta tetap memberikan cobaan bagi para kekasihNya untuk mendapatkan kenikmatan cintaNya yang lebih besar. Seperti yang dilakukan oleh kekasih utama sang Pecinta, rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam. Kisah berikut mencaeritakan betapa totalitasnya cinta Rasul.
“Pagi itu,
meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu,
Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan
Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian,
sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang
mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu
persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan
tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua
sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin
kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring
lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?”
tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah
yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membukan mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah
menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di
kenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan
pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih
Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti
kedatanganmu,” kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan
surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh
tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar
wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar
Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja
semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak
membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat
aimanukum, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu.”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di
wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.
Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Membalas cintanya yang tulus untuk keselamatan kita??
Salawat dan salam kami ucapkan untuk mua wahai Rasul.
For love and understanding




komen orang