Lapaaaarrrrrrr


“wah naik ya Teh harganya? Biasanya kalo segini cuma Rp.3.500 sekarang kok jadi Rp.4.500.”

“yah maklum harga pada naik Jang, ini aja teteh dah keteteran dan untung yang Teteh ambil juga kecil. Kalo di naikkan dikit lagi ntar Ujang ga makan di sini lagi.”

Yak! Demikianlah dialog kecil yang terjadi di suatu warung nasi suatu hari yang lalu antara seorang pelanggan dengan pelayan warung nasi tersebut. Terlihat dialog tersebut tidak ada hal yang aneh atau special. Dialog semacam itu mungkin juga pernah kita alami sendiri di keseharian kita. dialog yang sering terjadi ketika harga suatu barang yangternyata harganya tidak sesuai dengan perkiraan (red : makin mahal ) dan kita mengeluhkan hal tersebut kepada si penjual.

Memang kejadian tersebut suatu yang lazim. Namun coba kita tengok dan perhatikan keluhan-keluhan tersebut. Keluhan-keluhan tersebut merupakan representasi dari kekhawatirang masyarakat mengenai kesulitan mereka dan keberatanmereka dengan adanya kejadian-kejadian seperti kenaikan harga barang kebutuhan, kelangkaan barang-barang kebutuhan yang makin sering terjadi  dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang kemudian menimbulkan keluhan-keluhan seperti yang diilustrasikan pada dialog di atas.

Kekhawatiran yang muncul di masyarakat saat merupakan suatu hal yang wajar. Ketika tingkat ekonomi masyaakat yang selalu terpuruk dan tidak pernah mengalami perbaikan apalagi peningkatan. Harga-harga kebutuhan masyarakat malah semakin membumbung dan SANGAT SULIT terjangkau. Dan sayangnya pemerintah ternyata tidak memiliki policy untuk melindungi kepentingan masyarakat banyak. Bahkan dalam beberapa hal dengan alasan untuk melindungi kepentiingan masyarakat pemerintah mengambil kebijakan untuk mengurangi subsisdi bagi masayarakat dalam beberapa kebutuhan pokok msyarakat. Entah kepentingan masyarakat mana yang pemerintah lindungi, namun kebijakan tersebut makinmencekik masyarakat dan pemerintahpun tak sedikit pun menampakkan wajah penyesalan  dan maaf. Bahkan mereka beranggapan kebijakan tersebut merupakan langkah heroic mereka kepada masyarakat.

Terlepas dari heroik atau tidaknya pemerintah saat ini, realita yang terjadi adalah masyarakat sunyi dan membisu. Loh?! Kenapa demikian? Seharusnya masyarakat melakukan protes , menjerit dan menuntut pembelaan terhadapa pemerintah atas hak-hak mereka. Bagaimana masayarakat akan berteriak, menjerit kalau tenaga mereka untuk melakukan hal tersebut saja tidak ada. Tidak ada makana yang masuk kedalam perut mereka yang akan memberikan tenaga kepada mereka untuk melakukan tuntutan. Mereka semua lapar dan tak ber tenaga, yang bisa mereka lakukan hanyalah merangkak dengan menyeret langkah mereka sambil memunguti serpihan-serpihan rezeki dari atas dengan harapan serpihan-serpihan yang terkumpul tersebut dapat mencukupi kebutuhan mereka layaknya kucing-kucing kurus kelaparan yang menunggu sisa-sisa makanan dari sebuah warung nasi yang tidak dihabiskan para pelanggannya. Bahakan lebih menyedihkan dari itu karena ternyata sisa makanan itupun di makan juga oleh si pelayan warung nasi.

Para founding  father negeri ini sebenarnya sudah berikrar bahwa kesejahteraan masyarakat akan terjamin. Semua ikrar itu kemudian diturunkan kepada genrasi berikutnya dengan meletakkan ikrar tersebut pada suatu Undang-Undang Dasar. Namun ketika zaman founding father negeri ini, mereka belum berhasil memenuhi ikrar tersebut. Dan seperti yang dikatakan ikrar tersebut secara de yurediturunkan ke genarasi berikutnya. Namun nampakanya  transfer nilai tidak berjalan baik sehingga menyebabkan distorsi yang begitu besar sehingga saat ini secara de facto di mana pun masayarakat berada tidak ada jaminan akan dirinya dan haknya sebagai orang Indonesia.

Wahai kawan! masyarakat saat ini bisu dan sunyi bukan karena mereka puas dengan keadaan yang mereka alami, tapi karena mereka saat ini pingsan dan tidak sadarkan diri karena tidak adanya zat gula yang mengalir dalam darah mereka. Mereka sudah takdapat menuntut apa-apa karena tiduk kuasa membuka mulut sendiri. Maka janganlah kalian menunggu suara mereka, jangan engkau hanya sekedar duduk menunggu dengan mata tertutup dan hanya memasang indera pendengaranmu. Kini effort yang diharapkan dari kita untuk merubah keadaan menjadi lebih baik jauh lebih besar dari sebelumnya. Mari kita datangi masyarakat kita dan perhatikan kebutuhan apa yang mereka dan bantu untuk memenuhi kebutuhan itu dengan karyamu.

Untuk masyarakat yang sejahtera dan bangsa Indonesia yang Jaya.

*untuk rekan-rekan tim palapa,mari kita tularkan semangat kita kepada rekan-rekan kita yang lain

Berkarya untuk Bangsa”   

Love and understanding.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s