Pengorbanan Cinta

Dalam komposisi kehidupan, cinta merupakan bumbu penyedap yang waib untuk dimasukkan. Konon kata kebanyakan orang cinta akan membuat hidangan kehidupan seseorang lebih gurih dan MAKNYUSSSS!!! istilah pak Bondan Winarno. yah!!jika kita tengok memang demikianlah keadaannya. Tanpa cinta kehidupan hambar dan sungguh merugi ketika seseorang memutuskan hidup tanpa cinta meskipun itu tidak mugkin. Terlepas dari segala persepsi itu cinta tetaplah akan hadir di kehidupan makhluk.

Sedangkan persepsi mengenai efek cinta kepada seseorang, kebanyakan akan sepakat bahwa cinta akan membawa segala hal menjadi lebih baik meskipun pada kenyataanya keadaan tidaklah demikian, tapi setidaknya akan membawa aura-aura positif dan akan meningkatkan tingkat optimis yang ada. Yang kemudian akan membuat seseorang lebih berjiwa fighter dan perfeksionis. Itulah kekuatan cinta yang sering orang-orang agungkan.

Namun sayangnya pengagungan cinta kebanyakan selama ini diarahkan kepada objek cinta sehingga yang terjadi adalah penyembahan terhadap objek tersebut. Mungkin kita pernah mendengar cerita Sangkuriang yang menyulap suatu lembah menjadi danau karena penghambaannya kepada objek cintanya yaitu Dayang Sumbi. Mungkin kita masih beralasan itukan kisah legenda yang belum tentu kebenarannya. Namun ingatlahkisah Taj Mahal yang merupakan persembahan terindah kepada sang kekasih yang seakan setiap jengkal dari Taj Mahal menyebut nama sang kekasih. Namun sekali lagi itu semua ditujukan kepada objek cintanya. Dan yang terjadi adalah perbudakan oleh cinta itu sendiri. Terkadang perudakan cinta memang membawa kebahagiaan namun lebih sering adalah kepiluan dan kepedihan

Namun lihatlah ketika cinta disandarkan kepada si Pemilik, Pencipta dan Pelaku cinta itu sendiri. Dia lah Allah, seperti tulisan sebelumnya yang menceritakan orang-orang yang menaruh cintanya kepada sang subjek cinta itu sendiri. Kebahagiaan dan keindahan hidup insya Allah akan selalu dalam genggaman mereka. Namun bukan berarti cinta mereka tanpa pengorbanan. Sang subjek cinta tetap memberikan cobaan bagi para kekasihNya untuk mendapatkan kenikmatan cintaNya yang lebih besar. Seperti yang dilakukan oleh kekasih utama sang Pecinta, rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam. Kisah berikut mencaeritakan betapa totalitasnya cinta Rasul.

“Pagi itu,

meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu,

Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan

Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian,

sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang

mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu

persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan

tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua

sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin

kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring

lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?”

tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah

yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata

sudah membukan mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah

menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di

kenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan

pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih

Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti

kedatanganmu,” kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh

kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan

surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh

tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril

membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar

wahyu itu.

“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar

Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja

semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak

membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat

aimanukum, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di

wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.

Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Membalas cintanya yang tulus untuk keselamatan kita??

Salawat dan salam kami ucapkan untuk mua wahai Rasul.

For love and understanding 🙂

Advertisements

Indonesia = Miskin????

Teringat sejak dari sekolah dasar dahulu, kita mempelajari mengenai history of Indonesia. Sejarah mengenai asal mula nenek moyang Indonesia yang konon katanya berasal dari suku Yunan di daerah Asia Selatan sana, kemudian diteruskan sejarah dari budaya zaman baheula tersebut yang kemudian masuklah cerita tersebut ke scene kerajaan-kerajaan dengan berlatar belakang agama, kerajaan Hindu-Budha kemudian disambung kepada kerajaan Islam. Kemudian pada masa ini dari cerita sejarah Indonesia mengalami masa kelam yang sangat panjang, 3.5 abad lebih dengan status bangsa jajahan yang penjajahnya berganti beberapa kali. Dan kemudian atas perjuangan dan pengorbanan yang teramat besar akhirnya Indonesia kembali mendapatkan kedaulatannya sebagai bangsa. Dan bagaimana keadaan Indonesia saat ini??? Kawan bisa rasakan dan alami sendiri, dan jika ternyata Kawan tidak mengerti keadaan bangsa Indonesia saat ini, tanyakan pada diri Kawan apakah Kawan peduli atau tidak. Sembari menanyakan hal tersebut mari ikuti tulisan ini dan semoga Kawan dapat menemukan jawabannya dari tulisan ini.

Dari sejarah dapat ditarik suatu statement bangsa Indonesia yang berdiri di atas tanah yang sungguh amat besar karunia Allah dilimpahkan di dalam maupun di atasnya ini tidak pernah merasakan yang namanya sejahtera dan kemakmuran. Bangsa ini selalu miskin dari zaman nenek moyang yang datang dengan menyeberang lautan dulu sampai kehidupan yang sudah modern ini. Heh?? Bukannya di zaman kerajaan dulu kita pernah menjadi bangsa yang besar bahkan sampai menguasai daerah melayu. Dengung kerajaan Majapahit, Sriwijaya dan Mataram masih sangat terasa sampai saat ini dan selalu menjadi pembicaraan orang. tapi coba kawan tengok keadaan masyarakat pada zaman kerajaan tersebut. Siapa yang memiliki kemakmuran itu, masyarakatkah??? Atau hanya segelintir orang yang selalu bermegah-megahan yang diuntungkan oleh budaya feodalisme yang sangat mengakar di negeri ini. Keadaan perang saudara karena obsesi akan kekuasaan segelintir orang tersebut apakah membawa kemakmuran kepada masyarakat?? Tentu penderitaan lah yang masyarakat rasakan.

Kemudia di zaman kerajaan Islam apakah berhasil membawa masyarakat mengalami masa kemakmuran?? Ternyata budaya feodal masih merintangi dalam memakmurkan masayrakat, ditambah lagi dengan kedatangan bangsa-bangsa eropa yang mencoba untuk menduduki dan menguasai daerah-daerah nusantara ini. Maka yang perang yang berkepanjangan pun kembali melanda masayarakat. Sedangkan di zaman penjajahan tidak perlu diceritakan lagi bagaimana penderitaan yang diterima bangsa ini. Kemudian berhasil memerdekakan diri namun tetap kemakmuran tidak dapat diraih, bahkan keadaannya tidaklah jauh lebih baik dengan keadaan di zaman-zaman sebelumnya. Indonesia identik dengan MISKIN!

Kemiskinan yang berlangsung begitu lama ini tentu saja membentuk mentalitas manusia Indonesia yang mendarah daging. Karakter yang merasa cukup dengan keadaan, nrimo dan pesimis itulah yang terbentuk di masyarakat Indonesia sejak berabad-abad lalu. Kemampuan bangsa ini untuk berharap, bermimpi, bercita-cita seakan-akan bukan hak bagi bangsa ini bahkan hal tersebut dinilai tabu. Kemiskinan telah menutup mata masyarakat untuk bahwa kemakmuran adalah hak mereka. Namun sayangnya hal ini tidak disadari pemerintah. Ini terlihat dari program pengentasan kemiskinan yang sangat terlambat.

Karakter apalagi yang kemiskinan telah bentuk pada diri bangsa ini? apakah hanya karakter yang telah disebutkan? Teringat sabda rasul empat belas abad yang lalu kemiskinan mendekatkan diri seseorang pada kekufuran. Dan nampaknya sabda beliau adalah kenyataan. Kekufuran tidak hanya melingkupi aspek agama dan keimanan sesorang. Namun kufur di sini lebih luas yang lingkupannya adalah segala tebiat yang tercela yang dimiliki orang-orang kufur. Tengoklah keadaan saat ini yang bahkan kekufuran ini telah terjadi sejak zaman baheula. Khianat dan zalim kepada sesama adalah sebagian bentuk kekufuran yang terjadi dan yang paling mencolok dari bangsa ini.

Jabatan dan harta mudah sekali memukau masyarakat Indonesia karena mereka tidak pernah memilikinya selama ini. Dan ketika hal tersebut ditawarkan pihak luar tak ayal lagi kesempatan tersebut akan mereka manfaatkan sebaik-baiknya meski mereka harus menzalimi saudara-saudara mereka dan bangsa mereka. Inilah khianat yang terjadi di bangsa ini dan karakter ini telah mendarah daging sejak masa kerajaan dahulu. Fenomena ini juga yang kita ketahui dengan istilah korupsi, kolusi dan nepotisme. Dan memang Indonesia diakui dunia internasional sebagai bangsa penuh penghianat high class dunia.

Kemudian setelah mereka mendapatkan secuil harta dan jabatan dengan cara berkhianat. Maka untuk mempertahankan kemapanan mereka akhirnya mereka tidak segan-segan untuk menindas, menzalimi bahkan membantai saudaranya. Inilah salah satu kezaliman yang terjadi di Indonesia dan kajadiaan ini pun telah berlangsung lama. Budaya makan-memakan atau istilah manusia adalah serigala bagi manusia yang lainnya bisa menjadi istilah untuk memnjelaskan fenomena ini.

Solusi

Kawan apakah dengan demikian kemiskinan tidak dapat lepas dari bangsa ini karena karakter yang dijelaskan di atas telah mendarah daging di bangsa ini?? mari bangkita Kawan, jangan dengan kesadaran ini kita masih menjadi bagian masyarakat pesimis bangsa ini. mari kita berjuang dan bersolusi untuk melepas cap miskin di setiap kepala bayi yang lahir di negeri ini.

Langkah pertama adalah kita rubah paradigma masyarakat untuk selalu optimis dan memiliki keinginan besar untuk berkompetisi. Sadarkan bahwa kemiskinan dapat mereka ubah dengan kerja keras dan karya. Tentu Kawan hal ini harus kita mulai dari diri kita yang sudah memiliki kesadaran tersebut dan kemudian menyebarkannya kelingkungan kita. kedua mari kita satukan gerak sebagai generasi penerus untuk memperbaiki bangsa ini. Sebab bangsa ini tidak akan bangkit jika kita bercerai berai dan saling makan-memakan.

Mungkin sampai di sini dahulu sebagai pembuka diskusi kita Kawan. Solusi di atas bukanlah solusi yang sempurna, bahkan masih dikatakan mengawang-awang. Namun solusi di atas bisa kita jadikan pembukajalan untuk menemukan solusi yang lebih konkrit lagi.

Negeri ini sangan mebutuhkan kesatria-kesatria yang akan melepaskan dari jeratan penderitaan. Dan sadarkah Kawan kesatria-kesatria yang diharapkan adalah dirimu. Jangan Kawan ciutkan diri Kawan, sebab Kawan adalah orang besar.

For love and understanding 🙂