Kebangkitan Siapa?

Entah mengapa muncul perasaan lucu ketika memperhatikan fenomena yang ada di Negara ini dalam menyikapi momen perjuangan yang bersejarah yang dimilki bangsa ini. Dari perayaan proklamasi kemerdekaan sampai hari jadi angkatan bersenjata republik ini. kita temukan kegiatan seremoni yang diselenggarakan demi memperingati momen tersebut.

Hal yang paling baru adalah memperingati satu abad momen awal kebangkitan bangsa ini. lagi-lagi yang terjadi adalah seremoni secara besar-besaran di stadion kebanggaan bangsa ini yang hanya satu-satunya sejak empat puluh tahun lalu. Dalam acara terebut ditampakkan kemeriahan dan kebahagiaan yang sangat. Penuh dengan nyanyian, tarian dan ucapan-ucapan kebanggaan. Ucapan bangga bahwa momen awal kebangkitan bangsa sudah berlangsung seratus tahun.

Namun tak pernahkah kita terfikirkan segala yang awal pasti ada akhirnya. Setidaknya dalam mencapai akhir tadi ada rintangan-rintangan yang dihadapi yang jika lengah kita akan mati sebelum sampai tujuan. Seratus tahun lalu pendahulu bangsa ini telah menetukan garis start kebangkitan bangsa ini. dari garis start tersebut mereka melakukan injakkan pertama ke depan dengan penuh perjuangan. Kemudian injakan tersebut disusul dengan injakan-injakan langkah maju berikutnya. Dan sekali lagi dalam setiap injakan tersebut dikorbankan banyak hal oleh para pendahulu kita.

Sekarang apakah ada yang tahu dengan jelas sudah sampai di mana injakan tersebut. Atau menyadari apakah injakan langkah maju tersebut ternyata sedang berhenti di mana atau bahkan worstcase apakah ada yang sadar bahwa injakan itu telah mati? point inilah yang seharusnya disadarkan kepada bangsa ini memperingati momen bersejarah bangsa ini. Bung Karno berkata “bangsa yang besar adlaah bangsa yang menghargai pahlawannya” adalah bukan sebatas dilakukan perayaan mengenang momen heroic para pahlawan tersebut. Tapi analisis dimana langkah yang para pahlawan telah awali kini berada dan bagaimana keadaannya saat ini. Kemudian pikirkan bagaimana langkah tersebut bisa dilanjutkan agar tersampaikan tujuannya.

Seremoni yang diadakan seharusnya menyampaikan hal tersebut kepada bangsa ini. Menyampaikan keberadaan langkah bangsa ini dan langkah lanjutan yang akan dilakukan, sehingga seluruh bangsa mengerti apa langkah yang telah diawali para pahlawan tersebut dan bagaimana lanjutannya sehingga bangsa ini bisa bahu-membahu dalam memastikan injakan maju selanjutnya. Bukan seremoni yang penuh dengan kegemerlapan dan keriuhan yang tak bermakna yang diakhiri dengan letupaan kembang api yang diimpor. Begitu mubazirnya apa yang dilakukan dalam seremoni yang bangsa ini lakukan, padahal rasul telah berpesan bahwa kemubaziran adalah perbuatan syaithan yang azab Allah atasnya. Maka bukan suatu keheranan bangsa ini ditimpa azab karena perbuatannya adalah perbuatan syaithan, nauzubillahiminzalik.

Mari tegaskan kawan, seremoni momen bersejarah tidaklah sama dengan seremoni resepsi pernikahan yang penuh dengan kebahagiaan. Tapi seremoni ini merupakan seremoni untuk berjuang dan berkorban demi mencapai kebahagiaan. Jangan kita mendapatkan kebahagiaan dengan seremoni yang ada, sedangkan saudara kita di pedalaman sana masih dalam kebodohan dan ketidaktahuan.

Jangan biarkan langkah yang telah dimulai seratus tahun lalu mati ditengah dan terhenti ditengah jalan. Langkah tersebut bukanlah hanya langkah para pahlawan dan pendahulu negeri ini. Tapi merupakan langkahku, langkahmu dan langkah kita semua yang harus kita teruskan bersama. Maka berjuang dan teruskan langkah tersebut untuk menunjukkan bahwa seratus tahun lalu merupakan benar-benar awal kebangkitan bangsa ini yang tak akan berhenti sampai akhir dunia.

Advertisements