Tamu Kita


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tidak terasa hari ini sudah tanggal 25 Ramadhan 1429. Berarti bulan penuh berkah ini tinggal 4-5 hari lagi. Bagaimana Kawan? membaikkah amalan Kawan?? Atau dihari-hari akhir ini Kawan justru memenuhi pusat-pusat perbelanjaan. Sedang berusaha untuk memenuhi kepuasan nafsu untuk bisa tampil dengan dandanan baru di hari raya. Terutama untuk Kawan wanita semuanya. Ingat dengan ancaman Rasul kepada wanita-wanita yang tabarruj (bersolek yang berlebih-lebihan).

Beberapa Kawan banyak yang bergumam belakangan ini. “Wah ga terasa Ramadhan dah mau habis. Cepet banget ya waktu berjalannya”. Mendengar ini muncul peng-iya-an dalam hati. Ramadhan cepat sekali berlalu. Tapi apakah benar waktu yang berjalan lebih cepat dari pada sebelumnya?

Ada dua kemungkinan mengapa perasaan itu muncul. Pertama Kita begitu menikmati kesejukan dan kenikmatan yang tercurah di Ramdhan ini. Begitu khusyuknya kita terlena tanpa memperdulikan waktu. Larut dalam kasih sayang Allah yang Maha Kasih. Seperti yang digambarkan rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam dalam sabda-sabda dan perbuatan beliau. Dan memang secara psikologi ketika manusia larut dalam suatu kenikmatan yang menenangkan hatinya, maka perubahan dilingkungannya akan terabaikan.

Kemungkinan kedua adalah ramdhan bosan terhadap kita. Loh!! Bosen bagaiaman maksudnya?! Mari kita coba kita mengandaikan Ramadhan adalah sebagai tamu. Tamu ramdhan ini datang kita dengan membawakan sejuta oleh-oleh yang menyenangkan. Namun sayangnya, pada kedatangan tamu Ramdhan ini, kita tidak memberikan sambutan yang hangat. Tak satu pun senyuman dan ucapan terima kasih atas oleh-olehnya muncul dari bibir kita ini. Mungkin sejauh ini sang tamu masih bisa memaklumi.

Ketika sang tamu sudah duduk di dalam meski dengan inisiatif sendiri karena kita tidak mempersilakannya. Tak satu gelas air minum pun kita suguhkan untuk sang tamu. Dan parahnya lagi ketika sang tamu ingin membagi-bagikan oleh-olehnya, kita tidak menunjukkan interest kita. Bahkan kita diamkan atau istilah sekarang “dikacangin”. Kita hanya asik sama dirikita sendiri tanpa perduli dengan sang tamu.

Tentu ketika Kawan bertamu dan diperlakukan seperti demikian tidak akan betah dan ingin segera angkat kaki dari rumah tersebut bukan. Bahkan sejak tidak diterimanya Kawan dengan senyuman pun Kawan pasti sudah tersinggung dan pasti akan marah kepada tuan rumah semacam itu.

Dan sadar atau pun tidak itulah yang banyak kita lakukan kepada tamu agung bulan ramadhan ini. Kita tetap asik bergelimang maksiat didepannya. Padahal dia menuntut kesucian kita. Kita menginjak-injak oleh-oleh yang telah dia bawa langsung di depan matanya. Bahkan sebuah mahkota lailatul qodar yang penuh intan permata yang dirangkai dengan emas murni 24 karat, yang nilainya tidak bisa dibandingkan dengan bumi dan langit kita banting dan akhirnya pecah berkeping-keping.

So yang manakah yang terjadi pada diri kita? Berbahagialah jika kemungkinan pertama yang terjadi pada diri Kawan. Karena haram api neraka menyentuh kulit Kawan di akhirat nanti. Keberkahan akan menyelimuti kehidupan Kawan. Amin. Tapi jika kemungkinan kedua yang terjadi, cepat lah sadar wahai Kawan. Segeralah bersimpuh dan memohon ampuanan. Masih ada 4-5 hari untuk memperbaiki sikap kita kepada tamu Ramadhan kita. Insya Allah dia akan memaafkan meskipun banyak oleh-olehnya yang telah kita hancurkan. Segeralah…segeralah…
save our Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s