Obrolan ‘High Class’


Ngobrol bersama teman-teman sepanjang perjalanan saat bepergian memang acap kali mengasyikkan. Apalagi topic yang diobrolkan sedang hangat. Perjalanan yang memakan waktu lama tidak akan terasa. Begitu juga yang dialami penulis beberapa waktu lalu saat perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Penulis dengan beberapa teman semobil membicarakan beberapa topic yang cukup mengasyikkan.

Obrolan dimulai dari topic ringan mengenai film-film papan atas dunia seperti shawsanks redemption (sorry kalo ada salah tulis), god father hingga latar belakang dari film red cliff yang diangkat dari suatu buku. Dilanjutkan dengan obrolan tentang dunia mistis (ga meaning banget yang ini) hingga pada obrolan yang cukup serius mengenai dunia pendidikan (terutama isu BHP).

Dalam obrolan itu sempat terbahas dunia perkampusan. Dunia yang bersinggungan langsung dengan pendidikan dan pergaulan anak muda. Dari obrolan dengan topic ini terbahas mengenai gaya pergaulan anak kampus yang harapannya merupakan kaum intelektual muda bangsa.

Memang sudah bukan menjadi rahasia umum mengenai gambaran pergaulan anak ‘kampus’ saat ini. Kalo istilah seorang teman penulis adalah pergaulan ‘high class’, dan sepertinya isitilah tersebut disetujui oleh teman-teman penulis di mobil saat itu bahkan juga kawan-kawan pembaca juga. Bahkan masayrakat umum pun juga setuju dengan istilah tersebut untuk mengambarkan pergaulan anak ‘kampus’ saat ini.

Bagi kawan yang belum ngerti apa sih ‘high class’ itu?? Dari ungkapan teman penulis tadi tergambarkan pergaulan ‘high class’ itu adalah pergaulan anak muda yang dugeman, happy-fun oriented, dan sangat kental dengan hedonism. Gambaran tersebut nampaknya tidak salah, coba saja kita lihat di masayarakat umum.kehidupan seperti apakah yang dikejar-kejar oleh masyarakat pada umumnya, terutama generasi mudanya. Ya kehidupan yang have fun, hambur-hambur uang dan waktu. Pokoknya mubazir pisan! (syaithan high class dong ya).

Itukah kehidupan dan pergaulan ‘high class’ menurut masyarakat kita?? Tragis sekali!!

Seharusnya kehidupan dan pergaulan ‘high class’ bermakna kehidupan yang memilki nilai guna yang amat tinggi. Setiap detik selalu produktif dan jauh dari kesia-siaan. Dan jika kita tempelkan makna pergaulan high class tersebut kepada anak ‘kampus’, seharusnya anak ‘kampus’ yang ada penuh kreatifitas, produktiftas tinggi, menjadi pengayom masyarakat dengan intelektualitas yang mereka miliki, seharusnya. Generasi yang benar-benar menjadi harapan bangsanya untuk membawa kemajuan bagi masyarakatnya.

Teringat bentuk masyarakat ‘madani’ yang saat ini diidam-idamkan masyarakat dunia. Masyarakat yang benar-benar ‘high class’ ini dibangun dengan mental jauh dari kesia-siaan. “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok hari harus lebih baik dari hari ini” menjadi prinsip dasar mereka dalam meningkatkan produktifitas. Amalan kebaikan yang menjadi orinetasi mereka yang didasarkan kepada keikhlasan hati. Inilah kehidupan ‘high class’ yang sesungguhnya.

Adakah masyarakt seperti itu?? Atau masyarakat itu hanya dongeng dan khayalan belaka. Tidak kawan! Masayrakat ‘high class’ itu pernah ada di muka bumi ini, dan mereka menjadi contoh bagi umat manusia sepanjang zaman. Mereka muncul 14 abad yang lalu di sebuah kota yang bernama Madinah.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik(QS.Ali Imran-110)”

2 thoughts on “Obrolan ‘High Class’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s