Tindak Tegas Kaum Homoseksual

Sempat terperanjat ketika mengetahui bahwa di Surabaya akan diadakan konfrensi gay dan lesbian se-Asia. Saya terheran kenapa bisa hal itu terjadi. daerah yang terkenal dengan kesan kota daerah religious dimana banyak kyai dan ulama di sana bisa dilangkahi oleh orang-orang tak bermoral ini. Namun Alhamdulillah ternyata kepolisian bertindak tegas. Kepolisian tidak memberikan izin adanya konfrensi tempat berkumpulnya orang-orang yang dilaknat Allah tersebut.

Kejadian ini tentunya menjadi catatan penting bagi masyarakat Indonesia. Para pengantu aliran sesat gay dan lesbian semakin berani menunjukkan jati diri mereka. Dan anehnya banyak pihak yang mendukung dengan alas an Hak Asasi Manusia. Dan bahkan lembaga resmi di negeri ini seperti Komnas HAM mendukung habis-habisan dan seorang wakil ketua DPRD di jawa timur juga membela mereka.
Pancasila kita menyatakan bahwa negera kita berdasaekan kepada ketuhanan yang maha esa. Dan dalam aturan tuhan tidak ada satupun aturan tuhan yang membenarkan perbuata gay dan lesbian. Bahkan di dalam Al-Qur’an orang-orang yang menyalahi kodrat tuhan ini dilaknat dan di azab dengan hujan batu dan kemudian bumi dibalikkan sehingga mereka tidak berbekas di muka bumi ini. Jika kita lihat hadist-hadist rasulullah SAW, ancaman kepada orang-orang yang melakukan perbuatan jahil ini tidak main-main.

Jika alasannya perilaku ini berasal dari Allah, tentu kita sebagai manusia begitu lancang menyalahi Allah. Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan yang tujuannya untuk menjaga kelestarian umat manusia dengan memilki keturunan. Dan tentu saja jika masyarakat membiarkan penyakit homoseksual ini akan merusak tatanan sosial dan mengancam kelestarian manusia. Dan yang lebih ditakutkan lagi adalah turunnya azab Allah kepada kita. Nauzubillahiminzalik.

Untuk menjaga masyarakat kita dari kerusakan yang ditimbulkan oleh orang-orang yang menuhankan nafsunya dengan alasana HAM tersebut kita harus bertindak tegas dan tidak ada peluang sekecil apapun untuk mereka. Dan kita harus semakin menggiatkan dakwah kepada orang-orang yang sudah terlanjut tercebur ini dan mendoakan agar mereka kembali kepada jalan yang benar.

Untuk pencegahan hal yang bisa dilakukan adalah pendidikan seks sejak dini. Dalam Islam pendidikan seks sudah dimulai sejak umur anak 7 tahun dengan memerintahkan dipisahkannya tempat tidur anak laki-laki dan perempuan. Tujuannya untuk menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda. Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan iman yang menguatkan diri mereka dari godaan syaithan yang memancing hawa nafsu manusia yang semakin gencar.

Wallahu a’alam. Semoga kita terlepas dari perbuatan-perbuatan laknat seperti itu.

Advertisements

Semua Orang Bisa Kuliah di ITB

“wah saya ga berani kuliahin anak saya di ITB. Mahal sih!!!”

Kira-kira begitulah ungkapan yang akan diucapkan para orang tua siswa SMA saat ini jika di tanya apakah mau menyekolahkan anaknya ke ITB. Kesan mahal begitu terasa melihat dana yang harus disiapkan setiap orang tua calon mahasiswa yang bisa mencapai 80 juta rupiah. Kesan ini semakin kuat semenjak ITB juga melaksanakan program penerimaan mahasiswa baru Ujian Saringan Mandiri (USM) sejak tahun 2003 yang lalu. Sehingga sampai saat ini masyarakat mengaggap USM merupakan jalur khusus ITB untuk menjaring orang-orang kaya. Sedangkan orang miskin, ya..nanti-nanti saja. Seperti judul buku penulis Eko Prasetyo, Orang Miskin Dilarang Sekolah!!!.

Anggapan itu memang tidak bisa disalahkan. Sebab dari jalur tersebut ITB bisa mendapatkan dana dari seorang mahasiswa di atas 80 juta rupiah. Nilai itu baru untuk dana SDPA yang merupakan dana pendidikan awal. Belum termasuk dana kuliah persemester yang saat ini bisa mencapai 4.5 juta rupiah.

Memang fantastis angka tersebut. Namun memang demikian adanya dana yang dibutuhkan ITB untuk bisa menjalankan proses pendidikan serta mengembangkan keilmuan yang ada. Itu pun jika dihitung total adalah kurang dari sepertiga dari dana yang dibutuhkan ITB setiap tahunnya yang tertulisa dalam RKA ITB.

Berdasarkan data dari pihak ITB, dana yang dibebankan kepada mahasiswa untuk mengikuti pendidikan s1 di ITB adalah sebesar 100 juta rupiah. Dalam penarikannya ITB membagi dana tersebut dalam beberapa bentuk yaitu, SDPA, SPP, dan SKS.

Lantas bagaiamana masyarakat bisa mengakses pendidikan di ITB? biaya tersebut tidaklah harus dibayarkan oleh setiap mahasiswa ITB. Bagi yang memiliki kesanggupan maka mereka wajib membayar penuh biaya yang ada. Sedangkan bagi yang mampu sebagian atau sama sekali tidak mampu. ITB sampai saat ini yang akan mencarikan dana penutupnya. Dana penutup ini biasanya disebut dengan istilah “beasiswa”.

Berbagai cara ITB mengusahakan dana beasiswa ini agar masyarakat luas mampu mendapatkan pendidikan di ITB. Diantaranya ITB membangun kerja sama dengan berbagai istansi pemerintah baik pusat maupun daerah untuk mengucurkan dananya dalam membiayai pendidikan di ITB. Biasanya pemberian bantuan dana dari pemerintah daerah bersifat kedaerahan yaitu penerima beasiswa harus berasal dari daerah tersebut.

Selain itu ITB juga membangun kerjasama dengan perusahaan nasional maupun multinasional. Biasanya kejarannya adalah mahasiswa yang mereka bantu akan langsung diikat untuk bekerja diperusahaan mereka. Juga ada beasiswa dari ikatan-ikatan alumni ITB. dan masih banyak lagi bentuk beasiswa yang ada di ITB. jika ditotol untuk tahun ada sekitar 700 kursi beasiswa penuh yang disediakan ITB. angka tersebut belum termasuk beasiswa yang bisa diakses ketika sudah menjadi mahasiswa.

Komitmen ITB dalam menjaring calon mahasiswa dari masyarakat miskin benar-benar tidak tanggung. Jika masyarakat tersebut tidak sanggup membiayai diri untuk mengikuti proses seleksi. ITB yang akan mendanai mereka mulai dari dari biaya formulir sampai dengan biaya transportasi dan akomodasi selama seleksi.

Tentu hal ini merupakan komitmen yang luar biasa dari ITB. Semua kalangan masyarakat bisa mendapatkan kuliah di ITB. Syaratnya hanya satu. Anda mampu secara kecerdasan!!!

Tunggu apalagi segera siapkan diri anda untuk meraih cita-cita kuliah di ITB. Sebab sudah tidak adalagi slogan “orang miskin dilarang kuliah di ITB”. Slogan yang benar adalah “Anda cerdas dan pintar??kuliah lah di ITB”.

Fardhu Kifayah Orang-orang yang berilmu (mahasiswa)

bismillahirrahmanirrahim

Bisa menikmati bangku kuliah merupakan suatu kenikmatan tersendiri bagi seseorang meski ketika menjalaninya juga akan ditemukan kejenuhan-kejenuhan yang menghiasi perjalanannya dalam menempuh pendidikan. Bisa berinteraksi dengan kalangan intelektual dan berdiskusi mengenai berbagai fenomena ilmiah, fisik, sosial, maupun logika. Belum lagi peluang dan akses yang begitu luas dan tersebar, tentu saja membuat orang-orang yang mendapatkan kesempatan itu optimis akan masa depannya. Gaji yang besar, pangkat yang tinggi, dan kehidupan yang sejahtera sudah terbayang di benak masing-masing mereka.

Tapi tahukah kawan apa kewajiban bagi orang yang berilmu? kebanyakan kita terlalu terbuai dengan bayangan-bayangan optimistis di atas. Semua bayangan di atas kebanyakan berorientasi kepada apa yang akan kita dapatkan. Bahkan sampai mahasiswa aktivis yang gambarannya adalah mahasiswa yang peduli dengan masyarakat juga berfikir arogan bahwa mereka lah yang berjuang membela rakyat dalam menentang ketidakadilan. Namun nyatanya hak rakyat apa yang didapatkan oleh rakyat samapi saat ini belum jelas di mana rimbanya.

Kebanyakan manusia memang selalu menuntut haknya dan sering melupakan kewajibannya. Bagitu juga dengan kebanyakan para penuntut ilmu. Mereka hanya terus menuntut ilmu yang mereka butuhkan demi untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Padahal banyak kewajiban-kewajiab umat yang dibebankan dipundak mereka. Islam menyebutnya dengan Fardu Kifayah. Suatu kewajiban yang bebannya dibebankan kepada satu umat atau bangsa namun diwakilkan kepada segelintir orang yang diberikan amanah untuk menjalankannya. Dan menuntut ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satunya.

Fardhu kifayah bagi seroang penuntut ilmu tidak sebatas dia menjalankan perannya untuk menuntut ilmu. Justru kewajiban utamanya adalah mengimplementasikannyauntuk kepentingan umat dan bangsanya serta paling utama adalah mengajarkannya kepada masyarakatnya agar masyarakatnya terlepas dari kebodohan dan kemiskinan ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan diciptakan Allah bukanlah untuk segelintir orang, namun untuk kebaikan seluruh umat manusia. Maka ketika ilmu pengetahuan disembunyikan oleh para penuntut ilmu seagai aset pribadinya untuk kepentingan dirinya maka akan terjadi ketidak seimbangan di muka bumi. Kita lihat bagaimana kondisi saat ini dimana si pintar semakin membuat orang-orang yang bodoh semakin bodoh. Muncullah berbagai permasalahan sosial dan kehidupuan umat manusia seperti yang terjadi saat ini. Maka celakalah bagi para penuntut ilmu yang kikir.

Sebagai mahasiswa kita perlu benar-benar memperhatikan amanah fardhu kifayah kita ini. Saat ini kita sering memprotes kebijakan dan oknum pemerintah yang pro-kapitalisme dan liberalisme. Padahal kebanyakan kita juga bersikap demikian. Kita memprivatisasi keilmuan kita dan tidak mau mengajarkannya kepada masyarakat kita merupakan bagian dari perilaku pro-kapitalisme dan liberalisme yang tidak ada bedanya dengan para pejabat yang kita maki kawan.

Teringat pesan seorang professor yang dekat dengan saya, keberadaan ilmu pengetahuan mustinya meningkatkan derajat manusia seperti apa yang dikatakan Allah dalam kitab sucinNya. Tentu saja keberadaan suatu universitas sebagai lembaga yang terus menggali ilmu pengetahuan dan teknologi juga meningkatkan derajat bangsanya karena universtas melahirkan kita para mahasiswanya sebagai agen-agen dalam menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakatnya dan membangun bersama masyarakt.

Memang mutlak kebenarannya ajaran dari manusia paling terpuji Muhammad Salallahu’alaihiwassalam kepada seluruh umat manusia bahwa perbuatan yang paling mulia adalah menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu pengetahuan tersebut. Sebab ilmu bukanlah kekayaan yang akan habis dibagikan justru akan terus berkembang dan membawa kemaslahatan agi seluruh umat manusia sampai akhir zaman.

Memaksimalkan Peran Kita

pagi hari memang waktu yang penuh kejutan. 2 hari belakangan ini ada saja dua kejadian yang menarik aku. Tapi masing-masing kejadian sepertinya punya topik tersendiri untuk dibahas. Untuk kali ini akan dibahas kejadian pagi yang pertama.

Seperti biasanya pagi itu setelah melakukan subuh berjamaan di masjid, aku bersama penghuni asrama “yang baik” melakukan zikir subuh yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW 14 abad lalu yang kemudian oleh ulama abad 20 Hasan Al-Banna kembali diajarkan dengan gnecar kepada umat muslim dunia.

Setelah melakukan suatu ritual yang begitu indah bagi orang yang paham akan keislamannya, kami para penghuni saling bercengkrama mengenai apapun pokoknya topiknya bebas tapi bertanggung jawab. Setiap berhak menjalankan salah satu hak asasi manusianya yaitu hak untuk “ngomong” dan berpendapat sebebasnya selama itu masih pada tataran moral dan koridor akhlak berkata yang karim. Kemudian datanglah kesempatan kepada seorang anggota baru kami. Dia diminta pendapatnya mengenai bagaimana kesan dia saat masuk dalam asrama kami. Belum sempat si anak baru ini bersuara, ada satu “orla” (bukan orde lama, tapi orang lama) nyeletuk “asramanya kotor dan jorok !!”.
Spontan saja aku sebagai salah satu pendamping penghuni asrama itu pun terlonjak dan memberikan balasan ke penghuni yang seakan-akan bukan penghuni itu. “lah kalo kotor ya dibersihin!! Kalo berantakan dirapihin!!”, balasanku sambil menatap sedih si penghuni yang baru berkata bodoh itu.

Mengapa aku sebut itu perkataan bodoh? Sebab dia tak sadar bahwa dirinya penghuni asrama yang diakatai kotor dan jorok itu. Yang berarti dia secara langsung ambil andil membuat asrama itu kotor dan jorok . Dan tentu saja dengan mengatai asrama tempat dia itu kotor berarti secara langsung dia menhina dirinya sendiri kotor dan menjijikkan. Dan sayangnya dia tidak sadar akan hal itu dan selanjutnya melakukan kewajibannya untuk membersihkan asrama tempat dia dan kami tinggal tersebut.

Banyak orang sering memvonis suatu objek ini atau itu. Mengritik si objek itu payah, buruk, tidak becus dan segala bentuk kritikan dan hinaan lainnya. Padahal dia berada di dalamnya dan punya peran besar terhadap si objek. Contohnya dapat kita temukan di masyarakat. Seperti protes jalanan yang macet, korupsi yang meraja lela, lingkungan kumuh, banjir dan sebagainya permasalahan yang muncul di masyarakat.

Tapi pernahkah kita bertanya apakah kita sudah melakukan kewajiban kita terhadap objek yang jadi bulan-bulanan kita tadi. Kita kesal akan kemacetan, tapi apakah masing-masing kita sudah melakukan kewajiban kita untuk menaati segala hal peraturan lalu lintas? Kita sebal jakarta selalu banjir. Apakah kita sudah mencoba membuang sampah pada tempatnya di manapun kita berada? Dan masih banyak contoh kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada kita karena kita berada dalam suatu sistem yang punya pengaruh terhadap permasalahan-permasalahan yang ada.

Jadi untuk menjadikan kehidupan kita lebih baik saya ada beberapa tips:
– 3 M nya Aa’ Gym (mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang)
– Berlomba-lomba dalam kebaikan. Jangan sampai orang lain mengambil kesempatan beramal baik dari kita.
– Bangun sense of belonging terhadap apapun. Sehingga jika ada sesuatu yang tidak seharusnya kita terpanggil untuk segera menyelesaikannya.