Memaksimalkan Peran Kita


pagi hari memang waktu yang penuh kejutan. 2 hari belakangan ini ada saja dua kejadian yang menarik aku. Tapi masing-masing kejadian sepertinya punya topik tersendiri untuk dibahas. Untuk kali ini akan dibahas kejadian pagi yang pertama.

Seperti biasanya pagi itu setelah melakukan subuh berjamaan di masjid, aku bersama penghuni asrama “yang baik” melakukan zikir subuh yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW 14 abad lalu yang kemudian oleh ulama abad 20 Hasan Al-Banna kembali diajarkan dengan gnecar kepada umat muslim dunia.

Setelah melakukan suatu ritual yang begitu indah bagi orang yang paham akan keislamannya, kami para penghuni saling bercengkrama mengenai apapun pokoknya topiknya bebas tapi bertanggung jawab. Setiap berhak menjalankan salah satu hak asasi manusianya yaitu hak untuk “ngomong” dan berpendapat sebebasnya selama itu masih pada tataran moral dan koridor akhlak berkata yang karim. Kemudian datanglah kesempatan kepada seorang anggota baru kami. Dia diminta pendapatnya mengenai bagaimana kesan dia saat masuk dalam asrama kami. Belum sempat si anak baru ini bersuara, ada satu “orla” (bukan orde lama, tapi orang lama) nyeletuk “asramanya kotor dan jorok !!”.
Spontan saja aku sebagai salah satu pendamping penghuni asrama itu pun terlonjak dan memberikan balasan ke penghuni yang seakan-akan bukan penghuni itu. “lah kalo kotor ya dibersihin!! Kalo berantakan dirapihin!!”, balasanku sambil menatap sedih si penghuni yang baru berkata bodoh itu.

Mengapa aku sebut itu perkataan bodoh? Sebab dia tak sadar bahwa dirinya penghuni asrama yang diakatai kotor dan jorok itu. Yang berarti dia secara langsung ambil andil membuat asrama itu kotor dan jorok . Dan tentu saja dengan mengatai asrama tempat dia itu kotor berarti secara langsung dia menhina dirinya sendiri kotor dan menjijikkan. Dan sayangnya dia tidak sadar akan hal itu dan selanjutnya melakukan kewajibannya untuk membersihkan asrama tempat dia dan kami tinggal tersebut.

Banyak orang sering memvonis suatu objek ini atau itu. Mengritik si objek itu payah, buruk, tidak becus dan segala bentuk kritikan dan hinaan lainnya. Padahal dia berada di dalamnya dan punya peran besar terhadap si objek. Contohnya dapat kita temukan di masyarakat. Seperti protes jalanan yang macet, korupsi yang meraja lela, lingkungan kumuh, banjir dan sebagainya permasalahan yang muncul di masyarakat.

Tapi pernahkah kita bertanya apakah kita sudah melakukan kewajiban kita terhadap objek yang jadi bulan-bulanan kita tadi. Kita kesal akan kemacetan, tapi apakah masing-masing kita sudah melakukan kewajiban kita untuk menaati segala hal peraturan lalu lintas? Kita sebal jakarta selalu banjir. Apakah kita sudah mencoba membuang sampah pada tempatnya di manapun kita berada? Dan masih banyak contoh kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada kita karena kita berada dalam suatu sistem yang punya pengaruh terhadap permasalahan-permasalahan yang ada.

Jadi untuk menjadikan kehidupan kita lebih baik saya ada beberapa tips:
– 3 M nya Aa’ Gym (mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang)
– Berlomba-lomba dalam kebaikan. Jangan sampai orang lain mengambil kesempatan beramal baik dari kita.
– Bangun sense of belonging terhadap apapun. Sehingga jika ada sesuatu yang tidak seharusnya kita terpanggil untuk segera menyelesaikannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s