Obrolan Soekarno dan John F Kennedy Di Kamar Tidur


Bismillahirrahmanirrahim

Saya pagi ini membaca buku otobiografi dari orang Indonesia paling terkenal seluruh dunia sepanjang masa. Ya buku otobigrafi Bung Karno yang ditulis oleh Cindy Adams dengan judul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”. Dalam pengantar buku ini ada cerita dari sang proklamator mengenai suatu obrolannya dengan presiden Amerika Serikat saat itu. Dalam obrolan itu terkesan sekali keakraban mereka yang sangat kenal. Sama-sama pemimpin bangsa yang saling menghargai dan bervisi jauh ke depan demi dunia yang lebih baik. Obrolan yang terjadi di tempat tidur sang presiden Amerika Serikat paling muda dalam sejarah ini adalah sebagai berikut.

“Dia berkata, “Presiden Sukarno, saya sangat mengagumi Tuan. Seperti saya sendiri, Tuanmempunyai pikiran yang senantiasa menyelidiki dan bertanya‐tanya. Tuan membaca segala‐galanya.Tuan sangat banyak mengetahui.” Lalu dia membicarakan cita‐cita politik yang kupelopori dan mengutipbagian‐bagian dari pidato‐pidatoku. Kennedy mempunyai cara untuk mendekati seseorang melalui hatimanusia. Kami banyak mempunyai persamaan. Kennedy adalah orang yang sangat ramah danmenunjukkan persahabatan terhadapku. Dia membawaku ke tingkat atas, ke kamar tidurnya sendiri dandisanalah kami bercakap‐cakap. Kukatakan kepadanya, “Tuan Kennedy, apakah Tuan tidak menyadari,bahwa sementara Tuan sendiri memadu hubungan persahabatan, seringkali Tuan dapat merusakkanhubungan dengan negara‐negara lain dengan membiarkan ejekan, serangan makian dan mengizinkankritik‐kritik secara tetap terhadap pemimpin mereka dalam pers Tuan? Kadang‐kadang kami lebihcondong untuk bertindak atau memberikan reaksi lebih keras, oleh karena kami dilukai atau dibikinmarah. Sesungguhnya apakah pergaulan internasional itu bukan pergaulan antar manusia dalamhubungan yang lebih besar? Penggerogotan terus‐menerus semacam ini merobek‐robek keseimbangandan mempertegang lebih hebat lagi hubungan yang sulit antara negara lain dengan negeri Tuan.” Sayasetuju dengan Tuan, Presiden Sukarno. Sayapun telah mendapat kesukaran dengan para wartawan kami,”dia mengeluh. “Apakah kami beruntung atau tidak, namun kemerdekaan pers merupakan satu bagian daripusaka peninggalan Amerika.” Ketika Alben Barkley menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat, iamengunjungi tanah air saya,” kataku. Dan saya sendiri berdiri dekat beliau di waktu beliau dicium olehserombongan anak‐anak gadis cantik remadja.” Saya yakin, tentu Wakil Presiden Barkley sangatbersenang hati,” kata Kennedy dengan ketawa yang disembunyikan. Sekalipun demikian tak satupunsurat kabar Indonesia mau menyiarkannya.Dan disamping itu mereka tak berani mengambil resiko untuk menimbulkan kesusahan terhadap seorangnegarawan ke seluruh dunia. Barkley adalah seorang yang gembira dan barangkali tidak peduli bilagambarnya itu dimuat. Akan tetapi bukanlah itu soalnya. Yang pokok adalah bahwa kami berkeyakinanperlunya para pemimpin dunia dilindungi di negeri kami. “Kennedy sangat seperasaan dengankumengenai soal ini dan berkata kepadaku dengan penuh kepercayaan, “Tuan memang benar sekali, tapiapa yang dapat saya lakukan? Sedangkan saya dikutuk di negeri saya sendiri.” Karena itu kataku, “Ya,itulah sistem Tuan. Kalau Tuan dikutuk di rurnah sendiri, saya tidak dapat berbuat apa‐apa. Akan tetapisaya kira saya tidak perlu menderita penghinaan seperti itu di negeri Tuan, dimana Kepala Negaranyasendiri harus menderita sedemikian. Majalah Tuan “Time” dan “Life” terutama sangat kurang ajarterhadap saya. Coba pikir, “Time” menulis, “Sukarno tidak bisa melihat rok wanita tanpa bernafsu”. Selalumereka menulis yang jelek‐jelek. Tidak pernah hal‐hal yang baik yang telah saya kerdjakan. “SekalipunPresiden Kennedy dan aku telah mengadakan pertemuan pendapat, persetujuan dalam lingkungan kecilini tidak pernah tersebar dalam pers Amerika Serikat. Masih saja, hari demi hari, merekamenggambarkanku sebagai pengejar cinta. Ya, ya, ya, aku mencintai wanita. Ya, itu kuakui. Akan tetapiaku bukanlah seorang anak pelesiran sebagaimana mereka tudukkan padaku.”

Ya dialog ini merupakan curhatan kedua pemimpin dunia tersebut mengenai media yang begitu perkasanya sehingga mebuat presiden pun tidak berkutik. Media sering tidak adil dalam memberitakan kejadian. Bahkan Tidak jarang dilebih-lebihkan dari kejadian sebenarnya. Subjektifitas juga sering dimunculkan, apalagi si media tersebut merupakan alat kepentingan nkalangan tertentu dalam mencapai tujuannya.

Kebebasan Pers di Indonesia saat ini benar-benar bebas. Semua hal bisa diliput. Namun sayangnya banyak kalangan media tidak bersikap dewasa terhadap kebebasan ini. Mereka lebih mementingkan keuntungan  materil yang mereka peroleh dengan memberitakan segala macam kejadian. Yang penting ada “duitnya”, begitu kira-kira prinsip yang ada. Sehingga seringkali mereka mengabaikan fungsi edukasi mereka ke para pengguna media. Sering juga terjadi pembodohan dan membingungkan masyarakat akan berita-berita yang mereka keluarkan.

Dalam masyarakat media memang memilki peranan penting dalam membentuk pla pikir masyarakat. Sebegitu powerfulnya sehingga bisa saja yang benar jadi salah, dan yang salah jadi benar. Yang buruk jadi baik, dan yang baik jadi sangat buruk. Semoga kejahatan-kejahatan media yang dicurhatkan oleh kedua pemimpin ini tidak terus terjadi. Dan kalangan media pun menyadari akan fungsi pentingnya dalam mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yanglebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s