Alunan Musik Bambu

Bismillahorrahmanirrahim

Sore ini saya mendatangi Saung Angklung Udjo yang merupakan pusat kerajinan angklung di kota Bandung, dan mungkin di Indonesia. Kebetulan saya ada meeting dengan salah satu staf di sana. Meeting kami diadakan pukul 14.00 namun karena saya datang agak lebih awal, akhirnya saya menunggu di teras dari toko souvenir di sana.

Namanya saung angklung, pasti identik dengan bambu. Dan begitulah Saung Angklung Udjo.Hampir di setiap sudut pekarangannya ditanami batang-batang bambu yang menjulang dan rimbun. Suasana begitu sejuk dan nyaman. Kepala saya yang sedang migrain ringan pun akhirnya reda dan kembali nyaman.

Akhirnya saya menikmati suasana di sana yang berangin sepoi-sepoi. Di tambah lagi alunan musik alam nan indah gesekan-gesekan bambu serta daunnya akibat diterpa angin. Sungguh indah musik alam ini. membuat fikiran tenang dan segar kembali. Saya pun takjub ketika sayup-sayup terdengar suara angklung yang goyang juga akibat angin. Ohh…indahnya alunan musik alam ini. Subhanallah…

Leluhur suku sunda pun juga tidak kalah menakjubkannya. Kata siapa budaya bangsa Indonesia selalu tertinggal dari bangsa-bangsa lain. Tak mungkin leluhur kita bisa menciptakan alat musik angklung tanpa ilmu pengetahuan. Mereka menciptkan nada-nada dari batang bambu yang indah-indah. bahkan nada-nada yang tercipta memilki tangga nada yang khas. Tidak seperti tangga nada yang diciptakan oleh komponis di negeri eropa. Tangga nada yang tercipta dari angklung ini lebih variatif dan tidak monoton pada 8 nada pada setiap tangga nadanya. Begitulah kata Sujiwo Tejo pada suatu kesempatan.

Saya bukanlah seorang yang ahli dan mengerti musik.Tapi ketakjuban hati ini akan musik alam yang sore tadi saya rasakan mendorong saya untuk berbagi cerita kepada kawan. Betapa mahapenciptanya Allah sang khaliq, dan betapa majunya budaya leluhur kita.

sumber gambar: http://dreamindonesia.wordpress.com dan http://yohansalman.com

Kemiskina Paling Bahaya

Bismillahirrahmanirrahim

Baru saja saya menonton kembali film Sang Murobbi. Film yang menceriktan perjalanan dakwah seorang guru yang bernama Ustd Rahmat Abdullah (alm). Wah, memnonton filmnya membuat ghirah akan dakwah jadi meningkat. Sosok da’i yang benar-benar langka di jaman ini. Sayang saya belum sempat mengikuti kajian beliau. Beliau sudah dipanggil Allah tahun 2005 lalu sedangkan saya baru mengenal sosok beliau dari film ini di tahun 2008 lalu.

Meski tidak sempat bertemu, namun ada pesan beliau yang juga disampaikan dalam film ini yang saya ingat. “Kemiskinan yang paling berbahaya bukanlah kemiskinan harta, melainkan kemiskinan azam dan tekad”. Di antara kita kebanyakan pasti akan setuju dengan pernyataan ini. Sebab harta kemiskinan harta masih bisa diusahakan untuk dicari, sedangkan kemiskinan azam dan tekad hampir sama dengan mati.

Bung Karno pernah mengilustrasikan kondisi yang miskin akan azam dan tekad ini. Beliau pernah menceritakan suatu bangsa yang dianugerahi oleh kekayaan alam yang begitu besar. Di sana serba ada. Namun akibatnya masyarakatnya jadi adem ayem. Tidak punya impian dan tekad. Tidak mau bergerak dan selalu berpasrah diri. Bangsa ini beliau sebut dengan Bangsa Utarakuru.

Sateeeeee…

Sateeeeeee….

Teriakan khas ini sebenarnya sudah tidak asing di telinga kita. Saya sejak masa kanak-kanak di Jakarta sering sekali mendengarnya disertai suara gerobak yang berlalu. Bagitu juga di Bandung. Bedanya ukuran gerobak tukang sate yang biasa lewat di rumah di Jakarta ukurannya lebih besar dari pada yang di Bandung ini.

Mengapa saya mengangkat soal tukang sate ini dalam tulisan. Sering kali terlintas dalam benak saya siapa yang akan membeli dagangan mereka itu. Kawan pasti juga tahu jika tukang sate, terutama sate madura yang menjual dagangannya mulai dari sore hari. Jarang sekali yang berjualan di pagi hari meski memang ada. Bagi tukang sate yang memiliki tempat, biasanya para pembeli lah yang mencari mereka. Namun ada juga tukang sate keliling, yang mendorong gerobaknya sambil berteriak khas “sateeeeeeeee….!!” ini saya pikir akan jarang sekali orang yang akan membelinya.

Saya beberapa kali terbayang, berapa jauh mereka berjalan memasuki lorong dan gang-gang sempit untuk mendapatkan pembeli. Berapa pembeli biasanya yang mereka dapatkan dalam semalam itu? Dan berapa “sih” untung yang mereka dapatkan untuk satu porsi sate yang mereka jual? Kalo tidak ada yang beli bagaimana? Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak akan pernah terjawab kalo tidak disurvey. Dan sayangnya saya belum mensurveynya…huuuffff.

Crops Circle…Lagi-lagi Pengalihan Isu

Lagi-lagi masyarakat Indonesia kembali tidak fokus. Dengan mudahnya isu di masayarakat bergeser ke isu murahan yang diheboh-hebohkan media. “Crop Circles” yang sudah sering dibuat oleh para seniman di luar negeri di berbagai negara. Akhirnya di minggu ini muncul di Indonesia tepatnya di Sleman dan Bantul. Sayang anehnya di negeri yang mengaku beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa ini, malah heboh dengan berita-berita bohong bahwa “Crops Circles” tersebut dibuat oleh makhluk asing. Ada-ada saja. Lagi-lagi masyarakat dibodoh-bodohi, dan itu oleh media yang seharusnya memberitakan kebenaran. huff, 100deee.

Akibatnya konsentrasi masyarakat yang sedang fokus kepada isu mafia pajak dan penegakkan hukum di negeri ini, buyar dengan berita yang “bodoh” tersebut. Belum lagi dengan gerakan masyarakat yang sedang merevolusi dunia persepakbolaan dalam negeri juga menjadi vakum. Dan masih banyak lagi isu-isu lain yang jauh lebih penting dan memiliki kemaslahatan orang banyak jadi tidak terurusi.

Wahai media, berhentilah kalian membodohi masyarakat. Kasihan masyarakat Indonesia ini yang menjadi bahan anekdot di negeri-negeri orang. Bahkan negeri tetangga yang serumpun. Apagunanya diberikan kebebasan pers tapi akhirnya justru merusak dan membodohi. Dan lebih anehnya lagi “tidak terima kritik”.

Twitter “Aplikasinya” Orang Indonesia

Baru-baru ini saya membuat akun twitter (telat amat mas..:p). Sebabnya saya penasaran mengapa orang-orang asik dengan twitter ini. Bahkan ketika berlangsungnya piala AFF yang lalu sering kali topic-topik sekitar piala AFF memuncaki Trending Topic di twitter. Saya heran kok bisa.

Setelah saya coba akhirnya saya temukan jawabannya. Aplikasi ini sangat pas dengan karakter orang-orang Indonesia saat ini yang senang berkomentar, sama seperti arti dari twitter itu sendiri. Dengan 140 karakter yang tersedia, pengguna bisa menyampaiakan komentar, pikiran, curhat, dan segala macamnya dengan singkat. Dan pengguna lain pun tidak usah perlu membaca panjang-panjang untuk mengerti apa yang dimaksud oleh pengirim pesan. To the point lah istilah orang bulenya.

Saya pun juga langsung keasyikan. Saya benar-benar menikamti kecepatan update beritanya yang jauh lebih cepat dari media lainnya. Namun seiring waktu daftar akun yang saya follow pun semakin bertambah. Akibatnya pergerakan info pun juga semakin cepat. Banyak info yang tidak saya dapatkan.

Kemudian saya terfikir twitter nampaknya tidak terlalu cocok untuk menyampaikan info-info penting. Sebab akan sering terllewat begitu saja akibat pergerakan twitter yang begitu cepat. Hal ini juga didukung oleh salah seorang dalam salah satu twitnya. Namun ada seorang temanku menjelaskan bagaimana menggunakan twitter agar kejadian yang seperti saya hadapi bisa diminimalisir. Berikut tips-tips yang diajarkannya.

  1. 1.       Follow akun twitter yang menyediakan info-info yang dibutuhkan. 
  2. 2.       Unfollow akun-akun twitter yang seringkali memberikan tweet yang tidak penting dan tidak dibutuhkan.

Nah! Alhamdulillah cara yang diberikan teman saya ini nampaknya memberikan hasil. Saya bisa mendapatkan info-info yang menarik dan saya butuhkan. Dan nampakanya saya juga tidak perlu khawatir jika saya mengunfollow salah satu akun twitter yang saya anggap tidak penting. Saya tidak berarti akan putus hubungan di twitter. Sebab twitter memberikan kemudahan kepada penggunanya untuk menjalin hubungan. Ya seperti orang “pacaran”, bisa “putus nyambung”. Hehehe. So gimana kawan-kawan, ada yang mau me-RT tulisan ini?

AR Baswedan, Tokoh Arab Jurnalis dan Nasionalis Idealis

 

Bismillahirrahmanirrahim

Pada tahun 2010 nama seorang Anis Bawedan begitu meroket. Tokoh muda yang merupakan rektor Universitas Paramadina ini sering tampil sebagai narasumber di berbagai event karena perhatiannya yang cukup besar dalam dunai pendidikan dan sosial politik. Bahkan di tahun 2010 ini dia memprakarsai program Indonesia Mengajar yang mengirimkan pengajar-pengajar muda lulusan perguruan tinggi ternama nasional ke daerah-daerah. Program ini diharapkan dapat merevolusi sistem pendidikan nasional yang cenderung kaku dan konservatif. Semoga saja, amin.

Saya pribadi beberapa kali bertemu dan mengikuti kuliah-kuliahnya di kampus tertarik dengan beberapa pemikirannya terutama yang terkait dengan hal dunia pendidikan dan pemerataan ekonomi dan pembangunan. Rasa ketertarikan ini membuat saya tertarik untuk mengetahui latar belakang sang tokoh.

Salah satu hal menarik yang saya temukan adalah latar belakang keluarganya yang menarik. Memang ada benarnya kata pepatah buah jauh tak jauh dari pohonnya. Begitu juga dengan seorang Anis yang lahir dari keluarga pejuang juga. Adalah Abdurrahman Baswedan atau yang dikenal dengan AR Baswedan merupakan kakek dari Anis Baswedan.

AR Baswedan merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan keturunan arab. Meski keturunan arab, beliau tidak membedakan dirinya dengan orang Indonesia lainnya. Bahkan beliau mengampanyekan asas kewarganegaraan ius soli. Dimana aku lahir disitulah tanah airku, begitu semboyannya. Hasilnya pada tahun 1934 lahir lah Sumpah Pemuda Keturunan Arab. Dan setelah itu menyusul berdiri Partai Arab Indonesia.

Beliau juga dikenal sebagai tokoh jurnalis nasional. Bahkan beliau merupakan salah satu perintis pers nasional. Seorang jurnalis yang penuh akan dedikasi dan idealism. Dia tinggalkan seluruh kemewahan yang dia dapat sebagai wartawan di berbagai surat kabar di jaman itu untuk bisa bebas menyuarakan dan mendidik masyarakat untuk maju dan berjuang menuju kemerdekaan. Suatu hal yang sulit dicari di jaman kebebasan pers saat ini yang justru kebebasan pers dimanfaatkan untuk mengejar keuntungan semata.

Lantas apa yang menjadi energi beliau untuk bisa bertahan dengan segala tekanan dan kekurangan dalam perjuangan jaman itu. Kekuatan iman lah yang menajaganya untuk terus berjuang. Semangat karena panggilan jihad untuk menegakkan kalimatullah di dalam dirinya terus memotivasi dirinya untuk terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

Beliau pernah berkata dalam suatu sidang BPUPKI. “Saya sendiri mempunyai pendirian sebagai seorang nasionalis Indonesia. Apa sebab ? Sebab saya seorang Islam. Sebab saya seorang Islam, maka saya seorang nasionalis Indonesia”. Sungguh semangat perjuangan yang didasarkan kepada iman yang apinya tidak akan padam.

 

 

Wahai pemuda bangsa, tidakkah kalian bangga akan beliau? Tidakkah kalian ingin meneladani dan meneruskan perjuangan beliau? Maka tumbuhkan iman kita.