Sateeeeee…


Sateeeeeee….

Teriakan khas ini sebenarnya sudah tidak asing di telinga kita. Saya sejak masa kanak-kanak di Jakarta sering sekali mendengarnya disertai suara gerobak yang berlalu. Bagitu juga di Bandung. Bedanya ukuran gerobak tukang sate yang biasa lewat di rumah di Jakarta ukurannya lebih besar dari pada yang di Bandung ini.

Mengapa saya mengangkat soal tukang sate ini dalam tulisan. Sering kali terlintas dalam benak saya siapa yang akan membeli dagangan mereka itu. Kawan pasti juga tahu jika tukang sate, terutama sate madura yang menjual dagangannya mulai dari sore hari. Jarang sekali yang berjualan di pagi hari meski memang ada. Bagi tukang sate yang memiliki tempat, biasanya para pembeli lah yang mencari mereka. Namun ada juga tukang sate keliling, yang mendorong gerobaknya sambil berteriak khas “sateeeeeeeee….!!” ini saya pikir akan jarang sekali orang yang akan membelinya.

Saya beberapa kali terbayang, berapa jauh mereka berjalan memasuki lorong dan gang-gang sempit untuk mendapatkan pembeli. Berapa pembeli biasanya yang mereka dapatkan dalam semalam itu? Dan berapa “sih” untung yang mereka dapatkan untuk satu porsi sate yang mereka jual? Kalo tidak ada yang beli bagaimana? Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak akan pernah terjawab kalo tidak disurvey. Dan sayangnya saya belum mensurveynya…huuuffff.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s