Berantas Korupsi?? Belajar Kepada Umar!!


bismillahirrahmanirrahim

Berantas korupsi, belajar kepada Umar? Umar yang mana ya? Yang jelas bukan Umar Patek yang katanya tersangka teroris yang baru-baru ini tertangkap. Umar yang jadi pembicaraan kita kali ini adalah salah satu khalifah pada masa Dinasti Umayyah. Meski dia berada pada masa dinasti Umayyah, namun dia disebut sebagai khalifatur Rasyidin yang ke 5. Para Khalifah pengganti rasul. Dialah Umar Bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz lahir pada tahun ke 62 Hijriyah dari keluarga Istana Bani Umayyah. Ayah Umar, Abdul Aziz bin Marwan merupakan adik dari khalifah pada saat itu yang bernama Abdul Malik bin Marwan. Meski terlahir dalam lingkungan istana yang glamour dan mewah, masa kecil Umar banyak mendapat binaan dari Abdullah bin Umar salah satu sahabat rasul dan putra dari khalifatur Rasyidin yang kedua Al-Faruq, Umar ibnu Khattab dan yang juga kakek dari Umar bin Abdul Aziz sendiri. Karena Abdullah bin Umar merupakan paman dari Ibunda Umar bin Abdul Aziz.

Dengan binaan dari sahabat rasulullah tersebut, Umar tumbuh menjadi pemuda yang soleh dan tegas. Namun sebagai keluarga istana kehidupannya tidak bisa dihindarkan dari fasilitas mewah yang disediakan negara baginya pada saat itu.

Menjadi Khalifah

Umar naik menjadi khalifah karena diangkat oleh khalifah sebelumnya yaitu Sulaiman bin Abdul Malik. Tidak seperti khalifah pendahulunya, Sulaiman bin Abdul Malik tidak mau mengangkat putranya sebagai penerus tahta. Sulaiman memilih orang yang paling tepat untuk menggantikannya. Maka Sualiman pun memilih saudara sepupunya Umar bin Abdul Aziz yang tanpa sepengetahuan Umar untuk menggantikannya sebagai khalifah.

Pada saat pengumuman khalifah pengganti yang ditunjuk oleh khalifah Sulaiman yang telah mangkat. Umar berorasi bahwa penetuan khalifah semacam itu tidak sah karena hal tersebut adalah hak seluruh kaum muslimin untuk menentukan siapa khalifahnya. Maka Umar pun menolak penunjukan tersebut dan mengembalikannya kepada umat muslim. Namun seluruh umat muslim yang hadir saat itu menunjuk Umar bin Abdul Aziz secara aklamasi sebagai khalifah, amirul mukminin. Umar pun tertunduk lesu, menangis dan berujar, ya Allah betapa berat cobaan yang engkau timpakan dipundakku ini.

Kebijakan Pertama, Barantas Korupsi!!

Setelah dibai’at oleh seluruh umat muslim, Umar tidak mau menunda-nunda pekerjaannya. Dia sadar betul bahwa tidak ada yang menjamin usianya akan panjang. Sedangkan dia tidak ingin dia meninggal sedangkan masih banyak umat yang tidak mendapatkan keadilan. Umar sangat takut hal tersebut akan melemparkannya ke dalam api neraka.

Tantangan terberat dan pertama yang bilau lakukan adalah memusnahkan ketidakadilan pada umat karena perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme pada keluarga penguasa. Bentuk kekuasaan yang berdasarkan keturunan mengakibatkan terjadinya tingkatan-tingkatan di sistem masyarakat. Tingkat yang merupakan golongan kerajaan atau kerabatnya menjadi tingkat teratas. Padahal Islam sangat membenci bentuk ketidakadilan ini dan hadir untuk menghancurkannya.

Menyadari hal itu, Umar yang merupakan bagian dari lingkungan kerajaan harus membuat kebijakan yang benar-benar menujukkan keseriusannya dalam memerangi ketidakadilan karena korupsi yang mewabah. Dia mulai dari dirinya sendiri. Dia kembalikan seluruh hartanya ke kas negara. Bahkan Umar sempat menanyakan kepada istrinya apakah sang istir tetap bersedia mendampingi dirinya meski tanpa harta atau tidak. Jika tidak Umar terpaksa akan menceraikannya. Begitu juga dengan anak-anaknya. Anak-anaknya pernah protes karena makanan enak yang biasanya disediakan untuk mereka saat ini sudah tidak ada lagi. Umar berkata kepada anak-anaknya, Apa yang kelian pilih, melihat ayah kalian di surga atau disiksa api neraka di akhirat kelak? Tentu anak-anak Umar memilih surga.

Kemudian langkah berikutnya, Umar memerintahkan agar hak-hak yang diambil dengan tidak benar oleh keluarganya untuk dikembalikan kepada yang berhak. Tentu langkah ini merupakan hal yang luar biasa dan mendapat protes keras dari keluarganya. Sampai seorang bibi Umar datang kepadanya untuk membujuk Umar agar sedikit lunak terhadap keluarganya. Umar pun berkata kepada bibinya tersebut bahwa keputusanny telah bulat.

Keadilan yang ditegakkan Umar ini membawa masyarakatnya mencapai kemakmuran dan kesejahteraan yang luar biasa dalam jangka waktu hanya 2 tahun. WawAmazing!!! eh ucapkan tasbih, Subhanallah… Kemakmuran dan kesejahteraan pada masa Umar ini mungkin tidak akan pernah kembali berulang di peradaban manusia setelahnya. Di masa itu tidak lagi ditemukan orang yang berhak untuk menerima zakat sesuai ketentuan syariat. Bahkan masyarakat Islam di benua Afrika tidak juga ditemukan orang-orang fakir dan miskin untuk menerima zakat. Suatu kondisi yang sangat kontra dengan kondisi Afrika saat ini dimana terjadi bencana kelaparan dahsyat.¬†Tiada kata yang patut terucap selain tasbih kepada Allah, subhanallah.

Umar bin Abdul Aziz sudah memberikan contoh gamblang bagaiaman menjadi seorang pemimpin yang menegakkan keadilan untuk masyarakatnya. Memulai dari diri sendiri adalah langkah seriusnya. Iman dan ketakutan akan siksa api neraka adalah kekuatannya.

Negeri kita saat ini mungkin sama kondisinya dengan saat dimana Umar baru diangkat menjadi khalifah. Kekuasaan dipegang oleh suatu rezim. Para pemimpin yang selalu minta dilayani, mulai dari kenaikan gaji, kendaraan mewah bahkan sampai dengan penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan keluarga dan kelompoknya.

Indonesia butuh sosok seperti Umar bin Abdul Aziz untuk memimpin negeri ini dalam reformasi. Pemimpin yang memulai reformasi dari dirinya sendiri dan keluarga. Pemimpin yang menolak kendaraan mewah agar dia nyaman bekerja dan beristirahat di perjalanan. Pemimpin yang mematikan lampu ruang kerjanya ketika anaknya datang untuk membahas tentang keluarga. Dan pemimpin yang tidak bisa tidur ketika masih adanya hak rakyatnya yang belum tersampaikan.

Jika ada sosok seperti itu saat ini. Segeralah pimpin negeri ini. Tak mau menunggu sampai tahun 2014 untuk memulai reformasi. Karena pemimpin saat ini sudah jelas omong kosong dan tidak mengakkan keadilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s