Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dan Konsumsi Energi Indonesia


Pertumbuhan ekonomi Indonesia dikatakan saat ini terus tumbuh positif. Seperti pada tahun 2012 pertumbuhan mencapai 6%. PDB tahun 2012 lalu pun mencapai 3000 USD perkapita. Padahal pada tahun 2010 PDB baru mencapai 1500 USD. Pada tahun 2013 ini di saat ekonomi global sedang mengalami perlambatan, target Indonesia tetap optimis  mencapai pertumbuhan 6.3%. Meskipun ada kekhawatiran target tersebut tidak tercapai, tapi saya yakin pertumbuhan positif tetap akan terjadi di Indonesia pada tahun ini.

Namun seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang bagus tersebut, ternyata Indonesia menghadapi permasalahan lain yang cukup rumit. Masalah itu adalah permintaan energi yang bertambah dengan cepat. Gaya hidup masyarakat mulai berubah. Awalnya gaya hidup masih sangat tradisional dengan menggunakan sumber energi non-komersil dalam aktivitasnya. Saat ini gaya hidup sudah menggunakan perkakas yang menggunakan energi komersil. Sayangnya produksi energi tidak dapat mencukupi permintaan. Akibatnya dalam 1 dekade terakhir defisit energi menjadi PR besar Indonesia.

Namun apakah kondisi ini akan mengganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia? Secara logika jawabannya iya. Namun kenyataannya tidak demikian. Pertumbuhan ekonomi akan tetap tumbuh meski terjadi defisit energi. Hal ini dikarenakan hubungan pertumbuhan ekonomi indonesia dan konsumsi energinya adalah uni-directional (Hoo, 2005). Pertumbuhan ekonomi memang meningkatkan konsumsi energi, namun tidak berlaku sebaliknya. Hubungan yang demikian juga terjadi hampir di seluruh negara berkembang.

Berbeda dengan negara maju. Tingkat konsumsi energi perkapitanya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi mereka atau dikenal dengan hubungan bi-directional. Hal ini terjadi karena basis ekonomi mereka adalah kegiatan produksi yang dilakukan oleh industrinya. Seluruh jenis industri memerlukan energi yang banyak. Yang membedakannya hanya tingkat rasio efisiensi penggunaan energi terhadap output yang dihasilkan. Sedangkan sektor konsumsinya pemenuhannya sudah dipenuhi dengan baik. Atau sektor konsumsi menjadi prioritas kedua setalah sektor produksi dipenuhi seperti saat ini yang sedang terjadi di Jepang pasca bencana Fukushima.

Dengan demikian, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini postif Indonesia tetap menjadi negara kelas berkembang selama hanya terfokus pada pemenuhan energi pada sektor konsumsi. Kondisi demikian diistilahkan middle income trap oleh Prof. Bambang Permadi Brodjonegoro.

Oleh karena itu mindset pertumbuhan ekonomi Indonesia harus dirubah. Fokus utama ada pada sektor produksi yang memberikan nilai tambah tinggi meski konsumsi energinya tinggi. Sedangkan pemenuhan sektor konsumsi bisa menggunakan berbagai skenario. Namun bagaimana strateg implementasinya? kita akan bahas pada tulisan berikutnya.

semoga bermanfaat.

One thought on “Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dan Konsumsi Energi Indonesia

  1. Pingback: Profil Demand Listrik Indonesia | Benny Nafariza Berbagi Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s