Profil Demand Listrik Indonesia


Pada tulisan saya beberapa waktu yang lalu saya menyebutkan bahwa berdasarkan penelitian  hubungan pertumbuhan permintaan listrik dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah uni-directional. Dengan hubungan ini berarti bahwa pertumbuhan ekonomi yang meningkat akan meningkatkan konsumsi listrik di Indonesia. Dan saat pertumbuhan ekonomi rendah bahkan minus pertumbuhan permintaan listrik tetap meningkat. Hal ini wajar karena elektrifikasi yang masih rendah serta konsumsi listrik yang rendah.

Dalam ilmu ekonomi, kondisi seperti disebutkan di atas dianalisis dengan analisis konvergensi. Analisis ini memperhitungkan koefisien-koefisien yang mempengaruhi berbagai variabel pertumbuhan ekonomi. Konsep dasarnya bahwa semua pertumbuhan akan menuju kondisi stady state. Yang menjadi objek analisisnya dari analisis konvergensinya adalah, kondisi seperti apa pertumbuhan bermula. Jika kondisi awal pertumbuhan berasal dari ketiadaan, atau bisa dikatakan nihil, maka pertumbuhan kecil akan terlihat besar. Namun ketika kondisi sudah mendekati stady state, maka untuk menghasilkan pertumbuhan yang kecil akan sangat sulit. Kembali ke kondisi kelistrikan Indonesia atau energi secara umumnya maka hasil analisis konvergensi mengaakan bahwa kondisi awal dari pertumbuhan listrik Indonesia sangat minim.

So, bagaiaman sih bentuk pola beban listrik yang dihadapi Indonesia (baca:PT.PLN)? penampakannya ada di bawah

Image

sumber: PPEN BATAN

Dari kurva di atas, kita dapat melihat ada permasalahan beban puncak. Beban puncak yang berlangsung hanya dalam durasi beberapa jam dalam sehari disebabkan oleh sektor rumah tangga. Sedangkan untuk sektro lainnya, pola beban cenderung merata.

Permasalahan beban puncak ini yang menjadi perhatian besar dalam penyediaan pasokan listrik. Apakah kapasitas pembangkit yang terpasang harus melebihi beban puncak atau tidak? Jawaban mudahnya tentu harus melebihi beban puncak. Namun ternyata tidak sesederhana itu. Pengadaan pembangkit dihadapkan oleh biaya dan investasi. Biaya dan investasi yang dikeluarkan tentunya harus kembali dengan tingkat keekonomian tertentu.

Ketika suatu unit pembangkit katakan pembangkit A digunakan untuk memproduksi listrik dalam durasi waktu yang singkat. Yaitu hanya pada saat beban puncak. Berarti penjualan listrik dari unit pembangkit A rendah dan cash in yang terjadi kecil. Cash in yang kecil membuat waktu Break even point dari investasi unit pembangkit A berlangsung lama dan belum tentu layak secara keekonomian. Berbeda dengan suatu unit pembangkit B yang digunakan untuk memenuhi beban dasar. Beban dasar berlangsung terus menerus sepanjang waktu. Sehingga unit pembangkit B terus berproduksi  dan penjualan listriknya pun tinggi. Akibatnya cash in besar dan secara keekonomian layak.

Pertimbangan yang demikian lah yang membuat PT.PLN tidak mengejar pemenuhan beban puncak pada setiap perencanaan penambahan kapasitas pembangkit. PT.PLN biasanya menambah kapasitas pembangkit pada level 60% dari beban puncak. Bagaiamana dengan defisit dayanya? Kebijakan yang masih digunakan sampai detik ini adalah dengan menyewa Genset atau PLTD dengan bahan bakar BBM. Hal ini karena investasi genset yang labih rendah dibanding jenis pembangkit beban puncak yang lain. Tapi genset memiliki biaya operasional yang tinggi karena menggunakan BBM. Bahkan biayanya bisa berkali-kali lipat dari harga investasi genset itu sendiri.

Ke depan beban puncak ini akan semakin besar seiring pertumbuhan ekonomi dan penduduk. Maka jika tidak dibuat pemecahannya maka pola penggunaan PLTD akan terus berlangsung. Dampaknya adalah terkurasnya anggaran belanja negara. Bagai makan buah simalakama, itulah gambaran permasalahan yang sedang dihadapai kelistrikan Indonesia. Terlepas dari pengakomodasian berbagai kepentingan beberapa pihak terhadap kebijakan eksisting, permasalahan ini harus disolusikan. Bagaimana solusinya? Insya Allah nanti kita diskusikan.

semoga bermanfaat

lets energy transform.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s