Kenaikan Harga LPG 12 kg Pertamina Bukan Sekedar Cari Untung Oleh Pertamina


Tahun baru 2014 ternyata ada suatu ledakan yang sanagt mengambil perhatian mayarakat luas. Bahkan ledakan kembang api di pesta tahun baru di Monas kalah nyaring. Awal tahun baru ini masyarakat Indonesia dikejutkan dengan ledakan tabung gas LPG 12 kg Pertamina.

Ledakan tabung gas ini bukan ledakan dalam arti sebenarnya seperti beberapa kasus ledakan tabung gas “melon” yang sering terjadi. Ledakan ini merupakan ledakan harga jual gas LPG 12 kg yang naik mencapai 67%. Efek ledakan ini sangat dahsyat bahkan sampai Presiden RI mengadakan rapat kabinet tertutup langsung selepas pulang dari kunjungan ke daerah.

Mengapa ledakannya isu ini begitu dahsyat. Padahal harga komoditas yang mengalami kenaikan harga hanya LPG 12 kg? Sedangkan paket gas subsidi 3 kg tidak ada kenaikan. Masayarakat yang mebutuhkan subsidi tetap bisa menikmati subsidi. Namun kenapa isunya sampai subsidi dikurangi? Sampai masayarakat kita panik, takut tidak bisa lagi menggunakan lpg karena tidak mampu membeli. Dan kemudian harga-harga barang juga diisukan terkena efek dan akan mengalami kenaikan.

Saya menilai terjadi pengaburan konten informasi kenaikan harga LPG 12 kg ini kepada masyarakat. Padahal apakah masyarakat mengetahui dengan jelas bahwa harga LPG yang naik adalah tabung 12 kg yang merupakan bukan barang subsidi? Sedangkan tabung 3 kg yang disubsidi harganya tetap dan tetap bisa diakses oleh masyarakat yang membutuhkan. Saya mengulang 2 point ini untuk menegaskan kepada pembaca agar pembaca mengerti bahwa seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan isu kenaikan ini.

Mungkin sudah banyak yang menjelaskan bahwa selama ini Pertamina menjual rugi LPG tabung 12 dan 50 kg kepada masyarakat. Harga per kg disamakan dengan harga LPG ditabung 3 kg yang merupakan barang subsidi. Sehingga dalam waktu 6 tahun ini Pertamina sudah rugi 22 Triliun Rupiah. Atas rekomendasi BPK Pertamina diminta untuk memperbaiki harga karena dinilai merugikan negara dengan menghilangkan potensi pendapatan negara sebesar 22 Triliun Rupiah.

Tahukah anda apa arti merugikan negara? Artinya bahwa Pertamina bisa dijerat hukum merugikan negara karena kebijakannya menjual rugi LPG 12 dan 50 kg kepada masyarakat. Sungguh tidak adil jika para pejabat Pertamina diseret hukum dan masuk penjara merugikan negara karena menjual rugi LPG 12 dan 50 kg atas interfensi pemerintah sebagai pemegang saham Pertamina namun tanpa perangkat hukum yg jelas. Padahal Pertamina sebenarnya tidak boleh menjual rugi LPG tabung 12 dan 50 kg sesuai dengan Perpres No. 104 th 2007.

Lagu Lama Sang “Pembela Rakyat” dan Pedagang Opportunis

Ketika isu kenaikan gas ini naik, maka ramailah orang-orang yang mengaku pembela rakyat. Mereka katakan kenaikan harga ini akan membuat rakyat sengsara. Harga LPG tidak lagi terjangkau masyarakat. Suara mereka makin nyaring karena momen ini berdekatan dengan momen pemilu yang tinggal hitungan bulan. Mereka membuat pencitraan dengan mengaburkan konten informasi seperti yang saya sebutkan di atas. Begitu juga dengan beberapa pejabat tinggi negara. Mereka ingin meperoleh penilaia KPI yang baik dengan menolak kanaikan harga LPG 12 dan 50 kg tersebut. Nilai KPI yang baik menjadi makin penting bagi para pejabat tinggi negara karena mereka berambisi memperoleh simpati rakyat karena mereka berambisi menjadi calon presiden di 2014 ini.

Semua itu lagu lama para elite-elite opportunis. Mereka manfaatkan kondisi dengan menciptakan kepanikan dan muncul ke masyarakat bagai pahlawan. Padahal tahukan saudara berapa persenkah kontribusi LPG tabung 12 kg dan 50 kg kepada jumlah penjualan LPG Pertamina? Hanya 17% saja. Berarti hanya 17% konsumen yang sebenarnya menggunakan LPG 12 dan 50 kg. Tapi oleh para “pembela rakyat” mereka sebut-sebut makanan di warteg dan warung2 makan kecil lainnya  akan semakin mahal. Daya beli masyarakat akan semakin rendah.

Begitu juga ulah beberapa pengusaha yang opportunis. Mereka timbun seluruh jenis tabung LPG sehingga ketersediaan di pasar terganggu. Barang menjadi langka. Dan harga menjadi naik tidak karuan. Harga naik bukan karena keputusan harga LPG yang naik tapi karena ulah oknum pengusaha kotor tersebut. Sedangkan BPHMigas yang punya wewenang untuk mengendalikan pasokan energi migas disisi hilir tidak berbuat apa-apa. Mereka seolah berpangku tangan tidak sanggup menindak pengusaha kotor tersebut.

Negara ini memang memusingkan dan akan semakin memusingkan menjelang pemilu 2014. Namun masyarakat harus tetap bersabar dan tidak perlu panik. Yakin lah masih banyak pejabat-pejabat dan orang-orang baik di negeri ini. Mereka sedang dan terus berjuang untuk bisa mendapatkan kesempatan mengelolan negara ini dengan baik. Terutama perbaikan di sektor energi yang menjadi sumber energi negara ini untuk tumbuh dan berkembang.

Isu kenaikan harga LPG 12 kg ini hadapi dengan tenang. Tidak perlu termakan hasutan-hasutan jahat yang berkembang. Jadikan momen ini untuk melihat siapa elite-elite negara yang pantas dan yg tidak pantas untuk memimpin negara ini. Dan beri dukungan kepada mereka-mereka yang memperjuangkan kebaikan untuk negeri ini. Suara anda akan sangat menentukan untuk mendapatkan pengelola negara yang amanah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s