Mari Konsumsi Listrik Dengan Bijak


Berikut tulisan singkat dari seorang Dosen saya yang sangat gamblang menjelaskan bagaiaman seharusnya kita bijak dalam mengonsumsi energi terutama listrik!!

“Pemadaman bergilir, bukan hal aneh lagi di negara ini, terutama bagi sodara2 kita yang tinggal di luar jawa.

Siapa yang salah? PLN? Pemerintah?

Memang PLN dan Pemerintah salah tetapi masalah tidak akan selesai dengan hanya menyalahkan PLN atau Pemerintah. Saya yakin teman2 kita di PLN sudah bekerja semaksimal mungkin. Kalau pemerintah, jujur saya nggak tahu, karena negara ini memang sudah lama berjalan autopilot.

Tetapi jelas bahwa pemadaman tidak akan berhenti dengan hanya menyalahkan PLN apalagi dengan membakar kantor PLN.

Pemadaman sebagian besar disebabkan karena jumlah kebutuhan listrik jauh lebih besar dibanding kebutuhan pembangkit. Membangun pembangkit butuh waktu lama, banyak peraturan yang menghambat, dan masih banyak penghalang lainnya. Sedangkan kebutuhan listrik terus meningkat dengan pesat.

Seperti sudah pernah saya tulis delapan tahun yang lalu, masalah listrik adalah masalah nasional, atau masalah bersama. Jangan pernah bermimpi bahwa PLN atau pemerintah bisa menyelesaikan sendiri tanpa bantuan rakyat Indonesia.

Nah karena penyebab utama pemadaman bergilir adalah karena kurangnya pembangkit, ya mari kita bersama-sama mengurangi kebutuhan listrik dengan cara berhemat. Lebih baik kita sedikit kurang nyaman daripada sangat tidak nyaman karena listriknya padam.

Sepertinya sederhana, cukup dengan berhemat. Kenyataannya, berhemat itu nggak mudah. Sering sekali kita dengan mudah membuat gerakan hemat energi padahal sama sekali tidak hemat.

Tadi pagi saya baru saja menghadiri suatu sidang doktor di PTN Bandung. PTN ini menyatakan telah melakukan gerakan hemat energi tetapi kenyataannya, ruang sidangnya sangat dingin, hampir semua orang harus pake jas.

Sejak kapan ya jas dianggap lebih sopan, lebih rapi, dan lebih formal dibanding baju batik misalnya? Sejak kapan kita menyebut pake dasi itu lebih sopan dan rapi dibanding tanpa dasi? Sejak kapan baju lengan panjang dianggap lebih sopan dibanding baju lengan pendek?

Jaman dahulu raja jawa pake sandal slop. Presiden Myanmar pake sarung dan slop dalam acara kenegaraan. Juga presiden Vietnam, Kamboja, dan Laos.

Untuk berhemat, kita harus meniru rakyat Jepang. Saat terjadi Tsunami dan menyebabkan hampir semua PLTN dipadamkan demi alasan keamanan, perusahaan listrik di jepang mengumumkan akan terjadi pemadaman bergilir, terutama saat musim panas. Pemadaman terpaksa dilakukan karena ada kekurangan pembangkit hampir 20 GW. Akan tetapi kenyataannya apa? Tidak ada pemadaman sama sekali. Penyebab tidak perlu dilakukan pemadaman adalah karena semua rakyat Jepang menyadari bahwa masalah listrik adalah masalah bersama. Jadi semua rakyat Jepang secara sukarela melakukan penghematan sehingga otomatis kebutuhan energi listriknya menurun drastis.

Rakyat Jepang melakukan penghematan secara nyata, tidak cuma slogan atau sebatas lip service. Di musim panas, semua pegawai dilarang memakai jas, dilarang memakai dasi, di larang memakai baju lengan panjang. Dengan demikian, sistem pendingin tidak harus bekerja keras. Sekarang tidak ada lagi istilah ngadem di mall, di kereta, atau di banyak fasilitas umum. Suhu di dalam mall atau kereta tidak banyak berbeda dengan suhu luar. Ingat, konsumsi energi listrik untuk pendingin di suatu gedung bisa mencapa lima puluh persen.

Rakyat Jepang melakukan penghematan dengan merubah gaya hidupnya. Tidak ada lagi rice cooker yang terus menerus bekerja 24 jam untuk menghangatkan nasi. Tidak ada lagi dispenser yang harus bekerja 24 jam supaya setiap saat tersedia air panas dan air dingin.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa hemat energi tidak identik dengan hidup sengsara. Saya pernah mengajak teman2 Korea berkunjung ke kantor pusat PLN. Mereka bertanya, “Pekik, ini bener kantor PLN?” “Kok gelap bener” Nah cara berhemat model kantor PLN semacam ini jelas salah. Ruang tamu kok gelap gulita.

Membaca buku di tempat gelap jelas bukan penghematan tetapi hidup sengsara. Itu malah pemborosan karena nanti kita boros untuk ngobatin mata atau beli kaca mata.

Jadi mari kita berhemat untuk mengatasi pemadaman bergilir dengan cara:

1) nyalakan rice cooker, dispenser, dan peralatan rumah tangga lain saat perlu. Kalau perlu kembali ke jaman nenek moyang kita dengan kembali minum air kendi.

2) nyatakan bahwa baju lengan pendek itu cukup sopan. Tidak kalah sopan dengan yang lengan panjang, berdasi, atau pake jas. Karena kita negara tropis, pake kaos oblong juga ga masalah.

3) pake sepatu tidak selalu lebih sopan dibanding pake sepatu sandal, slop, atau sandal jepit sekalipun. Kecuali alasan keamanan, sepatu kadang memang diperlukan.

4) kalau bisa lewat telpon, email, sms, atau BBM, ngapain sih kita harus rapat face to face.

5) kalau ada soft copy, kenapa sih harus dicetak.

Untuk pemerintah, jangan oversimplified the problem. PLTU tidak selalu lebih hemat dibanding PLTD. Mobil ber cc besar tidak selalu lebih boros dibanding yang ber cc kecil. Semua ada peruntukannya.

Tetapi yang jelas, hemat energi memerlukan gerakan nyata, bukan sekedar slogan atau lip service. Perlu diingat pula, energi yang kita hemat merupakan sumber energi termurah yang bisa kita dapat. Jauh lebih mudah menghemat 1 MW dibanding membangkitkan 1 MW.

Kembali lagi kepada teman2 yang paham masalah ini, jangan berharap banyak pada pemerintah. Mari kita selesaikan permasalahan listrik ini bersama-sama lewat gerakan nyata.”

Pekik Argo Dahono

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s